Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Website Resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
admin, 31 March 2021 Apem Beras Bu Wanti Yang Melegenda
berita

Selain terkenal akan kekayaan budayanya, Yogyakarta juga terkenal akan kekayaan kulinernya yang tidak perlu diragukan lagi, salah satunya adalah apem. Apem merupakan makanan tradisional yang memiliki cita rasa yang manis. Kue ini banyak ditemui dan dijual di pasar – pasar tradisional di beberapa daerah Indonesia.

Kata apem berasal dari bahasa Arab yaitu “afuum” atau “affuwun” yang memiliki arti ampunan. Dalam tradisi Jawa, kue apem memiliki filosofi yaitu ‘memohon ampunan kepada sang pencipta'. Kue apem sangat lekat dalam ritual upacara tradisional Jawa, kue ini biasa digunakan pada acara – acara syukuran, seperti upacara selama kehamilan, sunatan, pernikahan hingga upacara kematian.

Salah satu apem yang legendaris di kota Jogja adalah ‘Apem Beras Bu Wanti' yang berlokasi di salah satu kios di Pasar Ngasem Yogyakarta. ‘Apem Beras Bu Wanti' sangatlah legendaris karena telah berdiri sejak tahun 90-an. Kue tradisional ini bebentuk bulat pipih dan memiliki cita rasa manis dan gurih. Pak Doni (40 tahun) merupakan generasi kedua, sebelumnya usaha apem ini merupakan usaha turunan dari ibunya. Penamaan ‘Apem Beras Bu Wanti’ diambil dari nama istri beliau.

‘Apem Beras Bu Wanti’ memiliki 2 kios di tempat yang berbeda. Yang pertama berada di Pasar Ngasem dan mulai buka pukul 06.00 hingga pukul 08.00. Yang kedua berlokasi di Taman Sari dan buka mulai pukul 10.00. Terdapat perbedaan pengemasan dalam menjual apem. Di pasar ngasem, apem dibungkus menggunakan kertas minyak dan plastik. Sedangkan di Taman sari, kue tersebut dibungkus menggunakan longsong agar mengurangi penggunaan plastik, sehingga terlihat lebih cantik dan menarik minat pembeli untuk membeli. Sebelum terjadinya pandemi, dalam satu hari Pak Dony mampu menjual ludes adonan apem sebanyak 3 kilogram atau sekitar 180 buah apem, namun saat masa pandemi perharinya tidak menentu bahkan menurun hingga 50%. Untuk harga yang dibandrol pun cukup bersahabat dikalangan masyarakat, yaitu Rp 3000/buah.

Apem yang diproduksi di bulan Ruwah (satu bulan sebelum ramadhan) dimaksudkan untuk mengenang para leluhur. Apem pada bulan ini juga disajikan dengan tampilan yang sedikit berbeda, yaitu dengan menambahkan daun dedep srep (asrep) yang diletakkan di atas apem. Sesuai dengan fiosofi Jawa yang berfungsi sebagai penutup atau payung, panggunaan daun dedep srep tidak hanya di bulan ruwah namun juga digunakan untuk sesaji . Apem bisa dinikmati oleh semua kalangan, tetapi untuk pesananan keraton tidak boleh dicicipi terlebih dahulu.

Bahan yang digunakan untuk sebuah apem terdiri dari tepung beras, telur, kelapa muda, gula pasir, santan, ragi, dan diberi tambahan sedikit garam. Konsumen juga boleh request saat memesan kue apem “Kalau mau pake tepung tiwul juga bisa biar apemnya itu meprel (pecah), lebih enak ditambahkan dengan irisan nangka juga bisa” ujar pak Doni.

Uniknya, adonan apem dipanggang bukan menggunakan kompor melainkan menggunakan tungku dengan bahan bakar arang. Setelah matang, apem diangkat dan disajikan dalam sebuah nampan berbentuk persegi berbahan aluminium.

Tidak hanya warga lokal saja yang menjadi pelanggan ‘Apem Beras Bu Wanti’ ini, namun juga ada turis dari mancanegara. Salah satunya dari Negara Jepang, karena menurut mereka (turis Jepang)  kue apem ini sekilas mirip dengan kue Jepang yaitu dorayaki.



Tinggalkan Komentar


Daftar Komentar

Search
Tautan
Jogjakota DisparDIY Official Youtube Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Instagram Resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
Polling
Hasil Polling
Sangat Bermanfaat68.2%
Cukup Bermanfaat11.94%
Kurang Bermanfaat3.35%
Tidak Bermanfaat5.97%
Statistik Pengunjung
Hari Ini 530 Kemarin 502 Bulan Ini 12280 Tahun Ini 65771 Total Pengunjung 507542