Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Website Resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
admin, 06 July 2021 Menapak Tilas Jejak Tionghoa di Kampung Ketandan Yogyakarta
berita

Bila berjalan menyusuri pedestrian Jalan Malioboro di sisi timur tepatnya di sebelah utara Ramayana Mall, pengunjung dapat dengan mudah menemukan Kampung Ketandan. Gapura gagah berornamen dan warna khas tionghoa berdiri menjulang sebagai penanda pintu masuk kawasan Kampung Ketandan. Melewati gapura tersebut maka pengunjung telah dapat menemukan suasana etnis tionghoa melalui bangunan, kuliner dan penduduk yang mendiami kawasan tersebut. Meski begitu, penduduk lebih sering menyebut diri mereka sebagai pecinan peranakan karena adanya lebih dari satu etnis di kampung tersebut.

Pemerintah Kota Yogyakarta telah menetapkan Kampung Ketandan sebagai kawasan Pecinan di Kota Yogyakarta. Setiap tahun masyarakat dan wisatawan dapat merasakan keunikan budaya etnis Tionghoa dalam perayaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) dan Tahun Baru Imlek di Kampung Ketandan. Berbagai kuliner khas tionghoa seperti kue keranjang, mie panjang umur, kue mangkok dan masih banyak lagi dapat ditemukan dan dicicipi dalam perayaan tersebut tentu diolah serta dijual langsung oleh keturunan etnis tionghoa di Kampung Ketandan. Hiburan khas etnis Tionghoa yang disuguhkan dalam PBTY antara lain seperti tari Barongsai, wayang potehi dan hiburan menyanyi berbahasa mandarin. 

Kampung Ketandan menempati lokasi strategis di Kota Yogyakarta tidak jauh dari Keraton Yogyakarta karena memiliki hubungan sejarah yang dekat dengan Keraton Yogyakarta. Hal istimewa ini salah satunya disebabkan kawasan peranakan pecinan ini dahulu merupakan tempat tinggal para “tondo” sebutan untuk pegawai pajak yang menarik pajak etnis Tionghoa untuk diserahkan pada Keraton Yogyakarta pada zaman pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono III.

Pada saat itu terdapat peraturan dan Pemerintah Belanda bernama pembatasan pergerakan (passentelsel) untuk membatasi wilayah tinggal Tionghoa (wijkertelsel). Tapi karena kedekatan hubungan etnis Tionghoa dengan Keraton Yogyakarta maka dengan izin Sri Sultan Hamengku Buwono II, warga Tionghoa tetap dapat menempati kawasan di utara Pasar Beringharjo ini, dengan maksud turut memperkuat aktivitas perdagangan dan perekonomian masyarakat.

Adanya akulturasi yang berlangsung bertahun-tahun, melahirkan seorang Bupati keturunan etnis Tionghoa dan Jawa pada saat itu bernama Tan Jin Sing yang diangkat langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono III. Kampung Ketandan berkembang yang semula tempat pemukiman petugas pajak lalu menjadi kawasan perdagangan jamu dan bahan pokok, dan karena melihat perkembangan pasar yang bagus, maka hingga kini kawasan pecinan ini terkenal dengan kawasan toko perhiasan dan emas.



Tinggalkan Komentar


Daftar Komentar

Search
Tautan
Jogjakota DisparDIY Official Youtube Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Instagram Resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
Polling
Hasil Polling
Sangat Bermanfaat67.99%
Cukup Bermanfaat11.88%
Kurang Bermanfaat3.4%
Tidak Bermanfaat5.94%
Statistik Pengunjung
Hari Ini 401 Kemarin 556 Bulan Ini 14029 Tahun Ini 124614 Total Pengunjung 566385