Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Pemerintah Kota Yogyakarta
Selamat Datang di Website Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
admin, 13 Mei 2019 Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Cikal Bakal Yogyakarta dan Penyebaran Islam
berita

JOGJA WELCOMES YOU - Kotagede yang terkenal saat ini sebagai daerah pengrajin perak ternyata memiliki peran penting bagi sejarah penyebaran Islam di Yogyakarta. Tersebutlah Masjid Gedhe Mataram Kotagede, sebuah tempat dimana penyebaran Islam berawal di tengah-tengah pusat dari Kerajaan Mataram Hindu.

Terletak di Dusun Sayangan RT 04 Jagalan Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul, Masjid Gede Mataram Kotagede bergaya akulturasi Hindu dan Islam ini didirikan sekitar tahun 1587 M oleh Panembahan Senopati Sutawijaya. Masjid Kotagede juga dibangun dengan cara bergotong royong dimana pada saat itu masih banyak warga yang menganut agama Hindu dan Budha.

Takmir Masjid Kotagede Warisman mengatakan pada awalnya Masjid hanya berupa hutan bernama Mentaok yang lebat dan masuk dalam Kerajaan Pajang dengan Raja Sutan Hadiwijaya.

“Hutan dihibahkan sebagai hadiah kepada Ki Ageng Pamanahan, ayah dari Panembahan Sutawijaya. Dan mulai dibangunlah hutan tersebut sebagai tempat hunian bagi warga sekitar,” ujarnya saat ditemui di Pelataran Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Jum'at (10/5).

Warisman melanjutkan, setelah hutan dirambah untuk dijadikan huniaan maka diberi nama Padukuhan Mataram. Dari sanalah dimulai jalan masuknya penyebaran agama Islam ke Kotagede karena Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Sutawijaya merupakan murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga.

“Sebagai tempat penyebaran Islam maka dibutuhkan sebuah tempat, maka berdirilah Masjid Gedhe Mataram Kotagede dimana akan menjadi pusat segala kegiatan penyebaran agama yang bernafaskan Islam yang kental,” tuturnya

Kotagede yang masuk dalam Kerajaan Mataram pada awalnya merupakan kerajaan yang menganut agama Hindu. Namun setelah agama Islam mulai masuk dan meyebar maka lambat laun masyarakat mulai bergeser secara keyakinan untuk memeluk agama Islam.

Masjid Mataram memiliki bernilai arsitektur dan nilai arkeologis tinggi namun tetap memiliki unsur dari sebuah bentuk masjid yaitu Ruang Utama, Serambi, Pawestren, Benteng dan Regol, Parit, Mighrab dan Mimbar.

Konsep masjid yang berasal dari Sunan Kalijaga ini juga berkonstruksi sederhana namun di balik kesederhanaan itu syarat akan makna simbolis seperti Gapura Paduraksa, Gada hingga Mustoko. Mustoko sebagai simbol Rukun Islam, Gada sebagai simbol Rukun Iman sedangkan Gapura Paduraksa simbol akulturasi Hindu dan Islam.

“Simbol seperti Gapura dan Mustoko digunakan untuk penyebaran agama Islam, karena saat itu masyarakat Mataram masih hidup dengan pemikiran yang sederhana. Dengan simbol dan kesenian seperti gamelan, mereka akan lebih cepat memahami inti dari Islam,” tutur Warisman.  

Memasuki Masjid Gedhe Kotagede akan dijumpai sebuah pohon beringin tua yang cukup besar berusia ratusan tahun yang diberi nama WRINGI SEPUH. Dimana kepercayaan masyarakat apabila bertapa atau berdoa di bawah nya dan mendapati jatuhan dua helai daunnya dengan posisi satu menelungkup satu terlentang maka niscaya akan terkabul keinginannya.

“Banyak mitos dan kepercayaan yang beredar di masyarakat sekitar tentang masjid ini, semau kembali kepada diri masing-masing sejauh mana mempercayainya,” ujar Warisman.

Terdapat juga sebuah tugu atau monumen sebagai simbol akulturasi Kerajaan Mataram dan Kasunanan Surakarta. Dimana tugu ini merupakan tanda dimana Masjid Gedhe Mataram Kotagede dilakukan dua tahap yaitu era Panembahan Sutawijaya (Yogyakarta) dan Paku Buwono X (Surakarta).

Masjid dengan konsep Limasan ini terdapat juga sebuah mimbar ukir yang telah berusia puluhan tahun pemberian dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung (cucu Panembahan Senopati Sutawijaya).

Dan selain itu terdapat juga sebuah Bedug tua Kyai Dondong pemberian dari Nyai Pringgit yang selalu dipukul bila akan memasuki Bulan Suci Ramadan dan juga masih digunakan sebagai tanda masuk salat hingga saat ini.

Penyebaran agam Islam bertambah pesat seiring dengan meluasnya wilayah Kerajaan Mataram Islam pada saat pemerintahan Panembahan Senopati hingga mencapai Pati, Kediri dan Pasuruan. Dan mencapai puncak kejayaan peradaban Islam saat di pimpin oleh Sultan Agung.

“Dengan bertambah pesatnya Islam di Kerajaan Mataram dengan Masjid Gedhe Mataram Kotagede nya maka dari sinilah cikal bakal berdirinya Kota Yogyakarta higga saat ini menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),” tutup Warisman.

sumber : gudeg.net



Tinggalkan Komentar


Daftar Komentar

Search
Tautan
Jogjakota DisparDIY Taman Pintar Kota Yogyakarta CCTV Malioboro
Polling
Apakah Website ini bermanfaat ?

Hasil Polling
Sangat Bermanfaat71.07%
Cukup Bermanfaat11.43%
Kurang Bermanfaat3.56%
Tidak Bermanfaat6.39%
Statistik Pengunjung
Hari Ini 375 Kemarin 394 Bulan Ini 13033 Tahun Ini 54259 Total Pengunjung 148961