Website Dinas Pariwisata Seni dan Budaya - Tata Busana Panatacara Gaya Yogyakarta

Jajak Pendapat Setujukah anda dengan pengembangan Kawasan Bantaran Sungai Code sebagai kawasan wisata alternative ?

Sangat setuju
Setuju
Ragu-ragu
Tidak setuju
Sangat tidak setuju

    LihatPemilih: 3847

Login
 
Username  
Password  
 
Potret

Slamet Rahardjo, Maestro Pembuat Blangkon

Slamet Rahardjo, Maestro Pembuat BlangkonBlangkon adalah tutup kepala yang digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik Tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan asal m

Artikel

TATA BUSANA PANATACARA GAYA YOGYAKARTA
Hit: 11329

TATA BUSANA PANATACARA
GAYA YOGYAKARTA

Oleh: Dra Kinting Handoko M.Sn


Pakaian atau busana yaitu segala sesuatu yang dipakai mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk kelengkapan tata rias wajah dan tata rias rambut. Busana bagi manusia merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Selain merupakan sarana untuk melindungi diri dari alam sekelilingnya baik binatang, cuaca yang memungkinkan akan mengganggu kesehatan manusia.Busana atau pakaian atau pengageman yang melekat dibadan kita ini merupakan identitas yang mencerminkan jatidiri si pemakai (KRT Tejasaputro, 4 Maret 2009). Menurut penyaji dapat dikatakan bahwa “busana rasa bawa” artinya berbagai macam busana yang kita pakai diberbagai kesempatan akan berbeda pula sikap dan prilakunya sesuai dengan busana yang melekat. Misal : mengenakan celana panjang dengan mengenakan kain tentunya sikap duduk dan prilaku juga berbeda. 
Busana juga dipandang sebagai cerminan stratifikasi sosial dan tingkat peradapan masyarakat suatu bangsa. Seorang raja, pangeran, kerabat kraton, abdi dalem dan masyarakat umum di desa, di perkotaan memiliki stratifikasi sosial yang berbeda dan tentunya busana yang dikenakan  diberbagai acarapun berbeda pula.

Penggunaan busana adat tradisional Yogyakarta yang memiliki latar belakang budaya ketimuran, maka apabila seseorang mengenakannya tampak perilaku yang amat terikat oleh budaya yang melingkupi busana itu.Setidaknya menunjukkan sikap yang teratur dan terkendali kebebasannya, meskipun tetap menunjukkan keanggunannya. Menurut KRT Pujaningrat  yang dimaksud pakaian adat tradisional Yogyakarta menunjukkan bentuk-bentuk pakaian yang digunakan secara turun temurun oleh masyarakat Yogyakarta. Artinya pakaian itu sudah dipergunakan untuk kurun waktu tertentu diwilayah Yogyakarta.
Sesuai dengan acara workshop panatacara pagi hari ini, dalam perkembangannya telah banyak muncul panatacara upacara pangantin dengan gaya (style) masing-masing. Baik dari segi penampilan, gaya bahasa maupun dari segi busananya.  Akan tetapi kenyataan di lapangan belum banyak panatacara upacara pengantin yang konsisten, sehingga hal ini menjadikan sebuah persoalan tersendiri. Penyaji sebagai perias pengantin seringkali “kerjasama” (yang mencari ingkang kagungan kersa) dengan panatacara beserta busana yang dikenakan. Misalkan rangkaian upacara adat Tata Rias Pengantin Gaya Yogyakarta, tetapi busana yang dikenakan gaya Surakarta (Solo). Busana yang dikenakan panatacara lebih “mompyor” (macak gajah/berlebihan) daripada yang punya hajat. Beskap dan surjan gaya Yogyakarta, nyamping dan keris gaya Surakarta. Kiranya masih banyak lagi persoalan-persoalan yang kami hadapi sebagai perias pengantin dengan panatacara tentang masalah busana/pengageman. Selain persoalan busana/pengageman panatacara, ada satu hal yang perlu diketahui oleh calon-calon panatacara yaitu macam Tata Rias Pengantin yang telah dibakukan oleh DPD Harpi “Melati” Propinsi D.I.Yogyakarta. Untuk itu pada kesempatan hari ini penyaji mencoba memberi masukan tentang busana jawa tradisional gaya Yogyakarta bagi panatacara baik pria maupun wanita, meskipun sebagian besar panatacara di wilayah Yogyakarta adalah pria. Diharapkan materi hari ini memberikan wawasan dan apresiasi kepada calon panatacara maupun yang telah menjadi panatacara upacara pengantin di wilayah kota Yogyakarta.
  
BUSANA JAWA GAYA YOGYAKARTA UNTUK PRIA
A. Perlengkapannya :
    - Blangkon
    - Surjan, peranakan, beskap
    - Setagen cindhe atau setagen polos berwarna, panjang 2 meter.
    - Kamus  timang   yang   dihiasi   dengan sulaman   benang   gim   atau   
           sulaman kristik.
    - Keris branggah atau gayaman.
      - Kain batik Yogyakarta (latas putih) parang atai motif lainnya seperti  sidoasih, ciptoning, kohinor  dan lain - lain.
     - Selop.
     - Asesoris

1.    Surjan:  atau biasa disebut baju takwa yaitu khusus Ageman Dalem Sultan dengan para Pangeran Putra Dalem. Bentuk pengageman Takwa atau Surjan :
a.    Lengan panjang
b.    Ujung baju runcing
c.    Leher tinggi berkancing 3 pasang (6 buah), menggambarkan rukun Iman yaitu:

  • Iman kepada Allah
  • Iman kepada Malaikat
  • Iman kepada Utusan Allah
  • Iman kepada  Kitab-kitab
  • Iman kepada Hari Kiamat
  • Iman kepada Qadla/Takdir

d.    Dua buah kancing di dada berarti dua kalimat Syahadat
e.    Tiga buah kancing tertutup di ulu hati berarti: menutup tiga nafsu manusia:

  • Nafsu Bahimah=Hewani
  • Nafsu Laumah= Perut
  • Nafsu Syaitoniah= Setan

Ada lagi bentuknya sama dengan surjan, lancip dewpan agak pendek disebut “Baju Janggan” warna hitam, untuk para Abdi Dalem Putri, para Waranggana dan para penabuh Putri juga Keparak para Gusti (KRT Tejasaputra, 4 Maret 2009).
2.    Peranakan:  bahan terbuat dari kain lurik tenun pengkol dengan warna dasar biru tua mendekati hitam, bergaris biru muda telu dan papat tua atau Telupat yang bermakna Kewulu Minangka Prepat yang berarti Rinengkuh Dados Kadang (KRT Tejasaputra, 4 Maret 2009).
a.    Busana Peranakan ini berlengan panjang dan berkancing lima buah yang berarti lima Rukun Islam yaitu:

  • Sahadat
  • Sholat
  • Puasa
  • Zakat
  • Haji

b.    Berleher tinggi dan berkancing tiga pasang (6 buah), sama dengan surjan.
3.    Beskap / Atela: busana ini biasa dikenakan para Bupati pada saat pisowanan

B. Cara Pemakaiannya :
•    Kain diwiru 3 jari diawali lipatan pertama sered tampak  dari depan  dan jatuh di tepi bagian luar. Selajutnya kain yang sudah diwiru dililitkan  dari arah kanan ke kiri, bagian dalam diwiru pula sesuai dengan sisi kainnya. Apabila menggunakan kain motif parang, motif lereknya harus berlawanan dengan arah pemakaian keris. Pemakaian kain seharusnya menutupi mata kaki, rapi dan enak untuk berjalan. Setelah itu baru diikat dulu dengan tali.
•    Memakai setagen  biasa disebut lonthong  dililitkan sebatas cethik dari kanan ke kiri hanya satu sap (bukan bersap-sap seperti Surakarta).
•    Memakai  kamus timang dengan  cara dililitkan tepat pada tengah  setagen/lonthong.
•    Memakai surjan, beskap/atela gaya Yogyakarta. Spesifik untuk pemakaian peranakan, model wiron kainnya dengan cara engkol yaitu permukaan sered yang tampak berkelok-kelok
•    Pemakaian keris branggah atau gayaman diselipkan pada lonthong.
•    Memakai blangkon
•    Memakai selop.
             
Surjan tampak belakang        Pranakan                  Beskap Atela
(Sketsa : Kinting)

TATA BUSANA JAWA GAYA YOGYAKARTA UNTUK WANITA:
A. Perlengkapannya :
     - Kebaya kartini dan kebaya kethubaru.
     - Kain batik latar putih motif parang atau lainnya
     - Selop terbuka bagi kebaya  kethubaru  dan  selop   tertutup   bagi   kebaya 
       kartini.
     - Selendang untuk diserasikan dengan kebaya kethubaru
     - Gelung tekuk dan gelung kondhe (kondhe nasional)
     - Asesoris :   bros,  kalung,   tusuk   kondhe,  subang,  sisir  (pethat),  peniti
       renteng, penetep, ceplok jebehan, ceplok jenthit.

B.  Cara Pemakainnya :
       - Kain diwiru 1,5 jari diawali   dengan  lipatan  pertama    serednya tampak 
         dari depan ,  terus  lipatan berikutnya, 7, 9, 11 lipatan. Kain yang sudah diwiru  dililitkan dari kiri  ke kanan. Apabila menggunakan kain motif  parang, arah parang  dari kiri ke bawah ke kana atas. Pemakaian kain ada dua cara  yakni pertama, kain bagian dalam dibentuk segitiga baru dililitkan seterusnya hingga rapi, enak untuk jalan dan menutup mata kaki. Kedua, kain bagian dalam kedua ujungnya dililitkan  badan  dan diikat  baru lilitan-lilitan  berikutnya hingga rapi  kemudian diikat dengan tali. Pada kenyataannya  cara kedua  tidak menguntungkan, karena jika dipakai  untuk berjalan  kain bagian dalam menyingkap  ke atas lalu tampak betis kakai  dari depan.
       - Setelah itu memakai setagen  dan streples. Saat ini  sudah ada streples     dengan lilitan-lilitan  tali yang dapat dikencangkan maupun dikendorkan sesuai kebutuhan badan pemakai.
      - Mengenakan kamisol sebagai penutup streples, jika kebaya terbuat dari  broklat atau kebaya yang dikenakan  kebaya kethubaru. 
      - Untuk asesoris yang dikenakan pada  wanita cara Surakarta dan Yogyakarta  berbeda. Selain itu asesoris yang  dikenakan wanita menikah dengan wanita gadis  dibedakan  seperti yang  diberlakukan di dalam keraton. Busana keraton sering menjadi acuan bagi masyarakat Yogyakarta, misalnya busana perkawinan, dhomas, busana untuk lomba ngadi salira, dan busana adat lainnya.
       - Kebaya kartini  yang diplisir dengan pita emas (biasa disebut kebaya plisir)  ini untuk wanita remaja/gadis, sedang untuk wanita menikah  busana sama tetapi berbeda  hiasan sanggulnya. (lihat gambar).
 
Kebaya Kartini
 
                      Sanggul Tekuk untuk Gadis    Sanggul Tekuk untuk Wanita Menikah
           (Sketsa : Kinting)


                 Sanggul konde (Nasional)
        Kebaya Kethubaru
(Sketsa : Kinting)


DAFTAR PUSTAKA

Bawoek Soemiyati. Berkerudung Tanpa Paes, Tata Rias Pengantin Yogyakarta. Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Condronegoro,  Mari S.. Busana Adat Kraton Yogyakarta, Makna dan Fungsi Dalam Berbagai Upacara.Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara, 1995.
Pujaningrat.” Busana Adat Karaton Yogyakarta”.
Tejosaputra. “Perbedaan Antara Baju Surjan Dengan Baju Pranaan”. Makalah yang disajikan dalam rangka HUT Hastanata ke-31 di Djowitan, 4 Maret 2009.
Tienuk Riefky.Kasatrian Ageng Selikuran & Kasatrian Ageng.Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Yosodipuro, Marmien Sardjono. Rias Pengantin Gaya Yogyakarta Dengan Segala Upacaranya.Yogyakarta: Kanisius, 2008.

HALAMAN : 1

Link
Portal Pemkot Jogja Taman pintar TIC JOgja kota HPI Yogyakarta ASITA JOGJA JogjaCarnival kemenbudpar DIMAS DIAJENG Wisata Gunung api Purba Nglanggeran taman budaya Gudegnet jogjadotcom tasteofjogja visitingjogja yogyes Tour Jagja kampung wisata dipowinatan fmi Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta Java Promo Ruparagam sonobudoyo jogja trip TPO cokro tela cake Purawisata

Hak Cipta © Badan Informasi Daerah

Pemerintah Kota Yogyakarta - 2007.